Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Alasan Kenapa RAD Pendidikan Untuk Semua Usia Harus Disusun dan Dianggarkan

Mendokumentasikan sebuah kebijakan sangatlah penting, sebagai pedoman bagi semua pihak yang ingin melakukan intervensi terbaiknya, apakah bidang pendidikan, kesehatan atau layanan dasar lainnya di Desa.

Ada 14 Desa di Kabupaten Brebes yang sudah memiliki Rencana Aksi Desa Pendidikan Untuk Semua Usia. Sebuah langkah strategis menurut penulis, karena desa mau berpikir bagaimana mengoptimalisasi potensi yang ada dengan melakukan intervensi yang melibatkan semua komponen.

Persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja, tapi harus dipecahkan bersama-sama, semua saling memperkuat dan melakukan upaya terbaiknya untuk pemenuhan hak dasar warganya. Saat kita acuh terhadap persoalan warga yang ada di desa maka akan menjadi persoalan yang bertumpuk dan sumbatan masalah atau bootleneck semakin menguat dan bertambah beban ganda.

Persoalan rumit ataupun sulit pastinya ada jalan keluar untuk dipecahkan, dengan banyaknya perbedaan atau usulan warga yang masuk akan memperkaya solusi alternatif yang dibangun dan dilakukan selanjutnya.

RAD Pendidikan untuk semua di desa menjadi tolak ukur kebijakan bidang pendidikan, pasalnya semua komponen di desa dilibatkan untuk memikirkan. Apa yang dipikirkan oleh para pegiat pendidikan ini dimasukan dalam dokumen perencanaan dan ditanda tangani oleh Kepala Desa, BPD dan para ketua lembaga yang memiliki konsentrasi pada persoalan pendidikan di desa.

Contoh RAD pendidikan tematik pada intervensi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), maka kita harus mencari tahu berapa sih anak yang terlayani, anak yang belum terlayani di desa, sasaran harus dipahami dulu, data lengkap harus akurat dan di rekonfirmasi.

Makna rekonfirmasi disini adalah memastikan apakah orangtua siap untuk mengantarkan anaknya ke PAUD dan anaknya itu mau sekolah PAUD disini sangat penting atas komitmen mereka karena tidak mungkin anak saat belajar ke sekolah kemudian suruh berangkat sendiri, sedangkan sebagian anak PAUD pastinya menangis atau ingin di temani sama ortunya.

Pertanyaan lainnya adalah bagaimana dengan pembiayaan pendidikan di PAUD, fasilitas yang ada apakah di memadai atau tidak. Disinilah tim pendidikan harus melakukan intervensinya baik itu memastikan kenaikan anak yang dilayani PAUD dan bagaimana kontribusi dana desa untuk pos pendidikan ini.

Belum lagi persoalan mensukseskan wajar dikdas di Desa, dimana masih ditemui ada anak yang tidak sekolah atau ATS, rata-rata adalah anak yang lulus tidak lanjut yakni mereka sudah lulus SD/MI tapi tidak mau melanjutkan ke SMP/MTs, atau bisa juga anak lulus SMP/MTs tapi tidak melanjutkan ke SMA/SMK/MA, dengan berbagai alasan yang ditemui.

Ada juga persoalan anak putus sekolah karena kasus bulying, karena jarak, karena tidak dikasih uang jajan dan ragam lainnya. Bahkan masih banyak anak disabilitas atau berkebutuhan khusus yang tidak bisa sekolah.

Selain persoalan PAUD, Wajar dikdas, persoalan lain adalah masih ditemui di desa Dewasa tidak sekolah, mereka ada yang menikah dan sudah berkeluarga namun pendidikan masih rendah, sehingga menjadi beban ganda bagi daerah jika persoalan ini tidak di tangani dengan dukungan multisektoral.

Persoalan di remaja misalnya, juga menjadi tantangan tersendiri bagi desa, pasalnya masih remaja lalu menganggur, tidak punya skill atau ketrampilan, tidak mau kuliah karena tidak mampu secara finansial maka desa juga harus memikirkan bagaimana nasib para generasi produktifnya agar dia punya kemampuan dan kemauan yang tinggi untuk belajar ketrampilan dan nantinya tidak ketergantungan terus dengan keluarganya.

Penulis : Bahrul Ulum

 

 

KBC-01

KBC-01

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *