Ilustrasi_Taubat_Net
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Dua Kutub Pertarungan

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia …. dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (al-Baqarah 268-269)

Secara sadar dalam diri manusia ada pertarungan yang sangat sengit dengan setan, dimana medan pertempuran nya adalah hati, dan senjata yang digunakan oleh setan adalah pikiran dan godaan.

Ada dua jenis pikiran dalam hati manusia secara umum.

Pertama, bila pikiran manusia mampu menggerakkan daya konasi menuju kebaikan dan mendorong perilaku pelaku pelakunya kepada jalan yang normal maka pikiran itu merupakan Ilham yang datang dari malaikat.

Kedua, bila pikiran manusia mampu menggerakkan daya konasi menuju kejahatan dan mendorong perilakunya pelaku kepada perilaku abnormalitas yang menyimpang maka pikiran itu merupakan bisikan yang datang dari setan.

Dari kedua pikiran tersebut dapat dipahami, bahwa semua perilaku manusia adalah respons dari Ilham ataupun godaan-godaan setan. Keduanya merupakan dua kutub yang berbeda. Seperti kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, halal dan haram.

Kebatilan, buruk dan haram, merupakan cerminan prilaku yang tampak dari lahir maupun batin, dan hal ini dapat dikatan sebagai respon atas seruan dan godaan setan yang berkeinginan kuat untuk menjerumuskan individu manusia kepada fitnah dan kesesatan, karena prilaku dosa yang dilakukan.

Pengharaman dan pelabelan dosa sebagai upaya agar individu mampu berperilaku baik di semua kondisi. Setiap individu pun diharapkan mampu membedakan antara pikiran baik dan buruk, serta mampu merespon pikiran baik dan mengabaikan pikiran buruknya.

Disinilah mulai adanya peperangan dalam pikiran manusia. Peperangan antara manusia melawan setan tersebut dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) babak.

Pertama, di saat setan berusaha keras untuk mengalihkan manusia dari perbuatan baiknya dan mendorongnya untuk melakukan perbuatan buruk. Materi bisikan dan godaan setan kepada manusia pada babak ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat mengalihkan pandangan individu dari perbuatan baiknya dan mau melakukan sesuatu perbuatan buruk.

Bila dalam Bapak ini manusia mampu mengalahkan setan dengan segala bisikan dan dan godaanya, maka pada saat itu manusia akan mendapatkan ilmu kenabian yang membuatnya mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Manusia dapat menetapkan diri untuk melakukan pikiran-pikirannya dan meninggalkan pikiran buruknya.

Kedua, babak di mana setan tetap gencar melakukan serangan nya dengan cara lainnya, yakni dengan merusak niat untuk melakukan kebaikan yang ingin dilakukannya. Setan selalu memasukkan banyak abnormalitas batin dalam diri individu yang mampu merusak pahala kebaikan, seperti syirik, riya, lupa daratan, sombong, iri dengki dan mencela orang lain.

Pikiran buruk ini bagaikan senjata yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dan dari sinilah mulai nampak bahayanya dalam hati yakni mengarahkan pikiran dan kecenderungan yang mulia ditampakkan dalam perilaku nyata. Bila individu mampu memenangkan pertarungan di babak ini maka ia akan mampu mengiklaskan semua niatnya demi mencapai keridhaan Allah semata.

Babak ketiga, Bapak di mana setan mulai masuk dalam pikiran yang langsung mengarahkan perilaku individu kepada keburukan dan menimbulkan abnormalitas lahir. Seperti melakukan kezaliman mencuri melakukan tindakan kekerasan dan kriminalitas. Sehingga pahala yang sedianya akan dinikmati individu semuanya lenyap tak tersisa, dan tak tersisa sedikitpun bagi akhiratnya. Individu hendaknya mampu mempertahankan diri dengan baik dan memenangkan pertarungan bapak ini. Sehingga ia dapat memiliki investasi di akhirat.

Inilah bapak pertarungan setan dan anak manusia. Ada beberapa tingkatan manusia dalam menghadapi pertempuran ini. Adakalanya mudah dikalahkan sejak babak pertama, sehingga mereka mudah dialihkan dari perbuatan baiknya. Ada pula kalangan yang baru kalah di babak kedua, sehingga banyak niat baik mereka pun rusak. Ada pula kalangan yang kalah di babak ketiga hingga akhirnya mereka terjerumus dalam faktor abnormalitas lahir dan hilanglah semua investasi kebaikan di akhirat.

Sebagai seorang muslim, menyakini hidup didunia adalah pertempuran. Semua jenis perilaku yang bersumber darinya adalah hasil dari kemenangan ataupun kekalahan dalam pertempuran. Selanjutnya hasil ini akan berimplikasi dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Pertempuran inilah yang mengancam kestabilan kesehatan jiwa individu di dunia dan mengancam kestabilan yang menuju jalan Allah di akhirat. Wallahu ‘alam bishowab.

Lukman Nur Hakim, Kompasianer Brebes Tinggal di Randusanga Kulon |  KBC-29

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.