banjarharjo
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Hardiknas : Pastikan Semua Anak Bersekolah

Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan Pedoman Penyelenggaraan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020. Dalam pedoman tersebut, Kemendikbud mengumumkan tema Hardiknas 2020, yaitu “Belajar dari Covid-19”, serta memublikasikan logo resmi Hardiknas 2020. Bagi penulis Hardiknas ini harus dijadikan sebuah momentum penting dimana Gerakan Literasi Indonesia tetap harus berjalan, salah satunya adalah setiap penulis di Indonesia menyuarakan aspirasinya melalui tulisan yang bermakna dan bermanfaat, banyak pesan-pesan edukatif yang harus disampaikan, sehingga catatan digitalisasi akan terbaca abadi, sebagai catatan amal sholehnya. Ikhitar penulis hari ini adalah menyampaikan di Hardiknas ini, ” Pastikan Anak Indonesia Bersekolah, apapun Kondisi latar belakang orang tuanya”.

Fakta dan Data

Disebutkan pada Dokumen Strategi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah di Indonesia (2019), dari total penduduk usia sekolah (7 – 18 tahun) di Indonesia yang berjumlah sekitar 55 juta anak, berdasarkan analisa terhadap data Susenas 2017 diperkirakan 8% diantaranya tidak bersekolah. Persentase ini setara dengan sekitar 4,4 juta ATS. Untuk populasi anak usia SD/MI (7 – 12 tahun) diperkirakan ada 190 ribu (0,7%) yang tidak bersekolah, sedangkan untuk populasi anak usia SMP/MTs (13 – 15 tahun) diperkirakan ada 1,1 juta (8,3%) yang tidak bersekolah, dan untuk populasi anak usia SMA/MA (16 – 18) tahun diperkirakan ada 3,1 juta (23,9%) yang tidak bersekolah.

Kemudian, sebuah studi yang dilakukan oleh UNICEF tentang Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia ( UNICEF, Global Initiative on Out of School Children: Indonesia Case Study, 2015) mengidentifikasi berbagai faktor penyebab sehingga anak dan remaja usia sekolah di Indonesia tidak bersekolah. Faktor-faktor tersebut terkait dengan keterpencilan daerah tempat tinggal mereka, ketertinggalan atau kesenjangan pembangungan daerah, kemiskinan dan latar belakang ekonomi keluarga, serta masih belum memadainya layanan pendidikan untuk anak rentan seperti anak penyandang disabilitas. Studi ini juga mengidentifikasi bahwa masih banyak tantangan dari segi pemberian layanan pendidikan dan pelatihan, baik dari segi ketersediaan mau pun kualitas dan relevansinya.

Selanjutnya definisi ATS dalam dokumen PATS disebutkan adalah anak usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas (7-18 tahun) yang :
• Tidak pernah bersekolah baik di jenjang SD/MI sederajat, SMP/MTs sederajat, atau SMA/MA sederajat
• Putus sekolah tanpa menyelesaikan jenjang pendidikannya (putus sekolah di tengah-tengah jenjang SD, SMP, atau SM)
• Putus sekolah tanpa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (transisi dari jenjang SD ke jenjang SMP atau dari jenjang SMP ke jenjang SMA)

Sementara itu, Anak Tidak Sekolah dalam strategi nasional PATS ini dikelompokkan sebagai berikut:
1. Anak yang berada di daerah 3T
2. Anak yang bekerja dan pekerja anak
3. Anak penyandang disabilitas
4. Anak yang berhadapan dengan hukum (ABH)
5. Anak jalanan (Anjal) dan anak terlantar (Antar)
6. Anak dalam pernikahan anak / ibu remaja
7. Kelompok ATS lainnya

Latar belakang diatas, dapat dipetik sebuah gambaran yang cukup jelas, bahwa masih ada data di Kab/Kota di Indonesia yang belum menyelesaikan persoalan anak tidak bersekolah kembali bersekolah, dan ini menjadi Pekerjaan bersama semua komponen, karena tidak mungkin penyelesaian masalah ATS hanya dilakukan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Pendidikan saja, sangat butuh sinergitas dari semua unsur, seperti halnya OPD Perencana daerah, OPD Dinpermasdes, termasuk organisasi masyarakat ada Dewan Pendidikan, Organisasi Profesi ada PGRI, organisasi masyarakat keagamaan seperti NU dan Muhamadiyah, Perkumpulan Wartawan baik cetak Maupun elektronik, Tokoh masyarakat yang peduli masalah pendidikan termasuk Perkumpulan Kades/Kalur serta Relawan Peduli Pendidikan.

Egosectoral Data ATS

Fakta dilapangan, bahwa perbedaan data ATS menjadi persoalan yang cukup pelik juga, termasuk mencari solusi bagaimana menggali data yang benar dan jujur berdasarkan kondisi di level Desa/Kelurahan, disatu sisi kalau sudah bunyi pendidikan, warga dan Pemerintah Desa/Kelurahan menganggap bahwa data urusan Dinas Pengampu yakni Dinas Pendidikan Kab/Kota, tapi didua sisi ketika di Dinas itu sendiri, hanya memiliki data anak yang aktif sekolah, yang belum sekolah tidak muncul, karena yang bicara di sistem pendidikan adalah anak yang tercatat di dokumen Dapodik. Sedangkan dari Pihak Pemerintah Desa sebagian enggan untuk mendata warganya terutama anak yang tidak sekolah berapa sih jumlah pastinya, baginya dianggap tidak seksi, terus apa korelasinya dengan desa jika datanya terpenuhi.

Saat ada data yang disajikan lengkap saja, ada masalah yang muncul kembali, apakah anak yang di data tersebut, lalu dikonfirmasi mau sekolah, ini menjadi pekerjaan siapa, jika pamong yang ditugaskan, tentunya akan ada alasan lagi, pekerjaan di Desa saja sudah pusing, apalagi ngurusi masalah ATS agar diantarkan anaknya ke sekolah, dan ragam alasan yang diutarakan. Lalu penting sekali di Desa jika ingin sukses maka harus ada tim khusus yang dibentuk oleh Desa khususnya untuk menangani masalah PATS atau dikenal dengan tim Penanganan Anak Tidak Sekolah, kalau di Brebes disebut dengan istilah FMPP atau Forum Masyarakat Peduli Pendidikan.

Sebuah Solusi Alternatif

FMPP adalah Sebuah forum dari keterwakilan unsur masyarakat untuk bertugas mendata, mengkonfirmasi anak mau sekolah atau tidak disini memberikan motivasi kepada anak dan orang tuanya, mengembalikan anak ke sekolah dengan mendampinginya, dan menggali dana secara swadaya atau bisa juga dialokasikan lewat dana desa untuk penanganan anak tidak sekolah agar semua anak di desanya bisa sekolah. Karena tugasnya sangat fokus dan holistik, sangatlah wajar jika Pemdes melalui Dana Desa mengalokasikan keberadaan organisasi tersebut, agar bisa membuat perencanaan yang baik, mendampingi ATS dengan baik, dan memastikan selama usia belajar dia tetap sekolah.

Disinilah terkadang muncul egosektoral antara pihak pemdes, termasuk faktor keterbatasan dana, menyebabkan organisasi ini terkadang harus terbebani dengan masalah yang menumpuk masalah pendidikan, disisi lain mereka harus mencari dana sendiri, desa hanya bisa memberikan SK Keputusan tim, tapi tidak memfasilitasi penganggarannya, akhirnya optimalisasinya tidak maksimal, bayangkan jika di desa anda ada 100 ATS, apakah bisa diselesaikan dalam waktu satu tahun, tentunya tidak bisa bukan, karena namanya pendidikan itu tidak instan, tapi berproses waktu dan kesempatan yang terjadi bisa memungkinkan ada masalah dalam kurun waktu tersebut.

Komitmen Pemdes menjadi tolak ukur keberhasilan penanganan ATS kembali bersekolah, termasuk kesediaan para tim pelaksana yang mempunya prinsip jangan meninggalkan generasi doif di desanya, pastikan semua anak harus sekolah, maka upaya apapun akan dilakukan, dan jangan punya orientasi keuntungan jika terjun ke misi sosial kemanusiaan, amaliyahkan waktu, tenaga dan dana anda, nantinya akan dibalas sebagai amal jariyah yang mengalir, dan ada kebanggaan tersendiri saat gerakan kepedulian anda kemudian menjadi catatan keberhasilan yang penuh inspirasi dan bermakna dan bisa dijadikan rujukan pembelajaran bagi daerah-daerah lain untuk belajar dari upaya yang dilakukan.

Terakhir, jangan pasrah dengan kondisi yang ada, jika di desa anda ada anak tidak sekolah, pastikan mereka harus menikmati pendidikan supaya nasib masa depan desa anda semakin baik, sehingga imbas nasib bangsa akan semakin maju dan beradab.

Pesan penulis seperti halnya dalam pesan Puisi Hardiknas.

Jadilah cerdas cendekia

Di sanalah nilai manusia

Karena ilmu tinggilah derajat

Karena ilmu jadilah hebat.

 

Belajar jangan-lah malas

Nanti nasib bisa tergilas

Giat selalu di dalam kelas

Kebodohan harus dilepas.

Penulis : Kompasianer Brebes tinggal di Kota Brebes | Penjelajah | KBC-01 Kombes

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.