Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Hj. Nur Nadlifah Komitmen pada Isu Kebangsaan

Nilai – nilai kebangsaan merupakan komponen penting yang harus diingat dan dipatrikan di dalam hati masyarakat Indonesia. Negara Indonesia merupakan negara yang besar, dengan beragam budaya, suku, agama, keyakinan, bahasa dan kekayaan alamnya yang melimpah. Ada setidaknya 17.504 pulau 1.331 kelompok suku dan 652 bahasa daerah.

Adalah Tokoh Perempuan yang berkiprah sebagai anggota Komisi IX DPRI RI Fraksi PKB Daerah Pemilihan IX Jawa Tengah Hj. Nur Nadlifah, S.Ag, MM sangat perhatian dengan pentingnya nilai – nilai kebangsaan. Beberapa kegiatan sosialisasipun dilaksanakan untuk membumikan pancasila, UUD RI 1945, Bhinkeka Tunggal Ika.

Sebagai warga negara diharapkan mencintai bangsa dan tanah air seutuhnya bahkan kecintaan itu harus kita tanamkan dimulai dari lingkungan kita, baik dalam keluarga, sekolah. Penanaman sikap itu penting terhadap lingkungan sekitar, keluarga bahkan lingkungan di luar rumah, bertenggang rasa dan bergotong royong bersama bahu membahu itu bagian daripada membumikan pancasila.

Anggota DPR yang menjadi anggota Komisi IX di bidang Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kependudukan ini juga sejak awal sudah berkiprah dan berupaya mengatasi pencegahan virus corona. Kegiatan sosial yang dilakukan di Dapil IX Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kota Tegal ini adalah melakukan penyemprotan desinfektan ke Pondok Pesantren, pembagian wastafel portabel yang ditempatkan di tempat – tempat strategis keramaian, pembagian masker dan lainnya.

Dengan sigap, Mba Nad, sapaan akrab Hj. Nur Nadlifah ini melakukan sidak ke Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes dan Tegal untuk menanyakan kesiapan alat pelindung diri ( APD) untuk tenaga medis. Hal itu merupakan perhatian Mba Nad terhadap tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien covid-19.

Kembali kepada kiprah Mba Nad yang perhatian kepada generasi Muda Indonesia memberikan pemahaman bahwa Indonesia sebagai bangsa yang unik, masyarakatnya tinggal di daerah yang berbeda, dengan sejarah yang juga berbeda. Karena adanya perbedaan ini, kemungkinan terjadinya konflik antar anak bangsa sangat besar. Oleh karena itu, dibutuhkanlah konsensus yang memiliki nilai-nilai kebangsaan.

Menurut Ibu kelahiran Pati, 28 Agustus 1972 dan aktif di PP Fatayat NU sebagai Ketua I ini mengungkapkan bahwa Empat pilar kebangsaan itu sudah tidak asing khususnya bagi warga NU. Kita sering menyebutnya PBNU yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Bentuk dari pengamalan empat pilar itu diantaranya setia dan cinta tanah air, mengembangkan persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, tidak membuat pernyataan atau keputusan yang merugikan bangsa. Selain itu juga tidak membedakan ras, suku, agama, adat, maupun bahasa, peduli terhadap bangsa dan Negara, saling tolong  menolong dan saling menghormati antar sesama manusia.

Kebhinekaan juga merupakan kekayaan Negara Indonesia yang harus diakui, diterima, dan dihormati. Kemajemukan sebagai anugerah juga harus dipertahankan, dipelihara, dan dikembangkan yang kemudian diwujudkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Keberagaman tersebut telah diakomodasi dalam UUD RI Tahun 1945. yang menjadi perekat dan pengikat kerukunan bangsa adalah nilai-nilai yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. tidak lain adalah sila-sila yang terkandung dalam Pancasila.

Tantangan Generasi Muda menghadapi Isu Radikalisme

Yang menjadi perhatian penting Mba Nad dalam memberikan sosialisasinya adalah upaya menghindari dan menolak paham radikal yang merusak tatanan kehidupan bangsa. Problem intoleransi di negara ini memang sudah terjadi sejak lama, itu artinya ini memang tugas bersama. Bukan hanya pemerintah saja, namaun bagaimana sebagai warga Negara yang baik dapat bersatu mencegah sikap yang bisa membuat pecah belah bangsa.

Faktanya,  di negeri ini kaya akan sebuah perbedaan maka dari itu pentingnya kita untuk saling menghormati ditengah perbedaan yang ada. Mencegah sikap intoleransi dapat dimulai dari keluarga kita, lalu di sekitar kita dengan menaruh hormat sebagai sesama manusia, dimulai dari menenamkan kecintaan terhadap Negara dengan menceritakan perjuangan –perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan NKRI.

 Jadi bukan hanya pemerintah yang berperan dalam mencegah intoleransi melainkan kita semua, seluruh warga Indonesia khususnya kalian sebagai generasi bagsa ini. Kalau sikap intoleransi dibiarkan tertanam di hati, maka sangat mudah sekali akan terpapar sikap radikalisme.

Di tengah era keterbukaan informasi seperti hari ini bahaya radikalisme dan perpecahan terus mengintai generasi muda. Minimnya pemahaman Pancasila sebagai landasan kehidupan baik berbangsa maupun bernegara. Oleh karena itu nilai-nilai kearifan Pancasila dipandang perlu dibumikan kembali di tengah anak-anak muda untuk menguatkan semangat persatuan. Pancasila akan selalu relevan karena pancasila bersumber dari nilai-nilai kebaikan.

Penulis : Lukmanul Hakim | KBC-05 | Tinggal di Dusun Lamaran Desa Sitanggal Brebes

KBC-05

KBC-05

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *