IMG-20191217-WA0140
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Ing Madya, Mbangun Karsa: Posisi dan Peran Penulis dalam GKB

Ada tiga posisi dan fungsi pendidik dalam proses pendidikan, sebagaimana disampaikan dan diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam menyelenggarakan pendidikan melalui Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara yang kita kenal pula sebagai Bapak Pendidikan Indonesia yang telah berjasa meletakkan pondasi (sistem) pendidikan di negeri ini. Ketiga posisi dan fungsi tersebut yaitu:

Pertama, Ing ngarsa, sing tuladha. Posisi di depan, berfungsi untuk dapat memberikan contoh, menjadi figur atau panutan yang dapat digugu dan ditiru.

Kedua, Ing madya, mbangun karsa. Posisi di tengah, berfungsi untuk menggerakkan, memberi semangat.

Ketiga, Tut wuri, handayani. Posisi di belakang, berfungsi sebagai pendorong.

Pendidik atau guru diharapkan dapat berada pada tiga posisi tersebut sekaligus, dapat melaksanakan ketiga fungsi yang ada: menjadi panutan dan penggerak sekaligus pendorong bagi murid-muridnya agar mau dan dapat belajar, menimba ilmu dengan baik dan benar.

Penulis sebagai Penggerak dan Pendorong

Kita, sebagai penulis yang tidak secara langsung berada dalam proses pendidikan, sebenarnya dapat turut serta juga mengambil peran atau posisi dan menjalankan fungsi yang ada. Salah satunya, posisi ing madya, guna mbangun karsa. Atau dapat juga sebagai pendorong guna kelancaran proses pendidikan, tut wuri handayani.

Dalam menyukseskan Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) misalnya. Kita bisa ikut turut bersinergi dengan para guru atau pengampu kebijakan pendidikan. Karena sejatinya, suksesnya penyelenggaraan pendidikan bukanlah tanggung jawab yang mesti dipikul sendirian oleh para pendidik, namun juga menjadi tanggung jawab orangtua dan masyarakat, di mana kita sebagai penulis berada di dalamnya.

Hal nyata yang dapat kita lakukan misalnya dengan menuliskan pemberitaan-pemberitaan yang positif mengenai GKB yang dapat memberikan wawasan kepada masyarakat tentang manfaat dan tujuan GKB sehingga mereka mau mendukung juga GKB.

Hal lain yang bisa kita berikan, adalah dengan menyajikan data-data dan fakta-fakta yang benar berkenaan dengan proses GKB. Data-data dan fakta-fakta yang dapat dimanfaatkan oleh para penyelenggara GKB ataupun masyarakat pada umumnya. Data-data dan fakta-fakta yang dapat menjadi masukan sekaligus juga kritik jika terjadi hal dirasa kurang benar.

Demikian, akhirnya, pendidikan memang adalah hak setiap anak yang menjadi warga negara di Indonesia ini, baik dari keluarga mampu ataupun tidak mampu. Dan GKB adalah salah satu upaya yang mesti kita dukung bersama, agar cita-cita mulia sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 dapat benar-benar terwujud dan terlaksana.

Selamat Hari Pendidikan. Salam!

Usman Didi Khamdani, Kompasianer Brebes asal Jatibarang, tinggal di Jakarta.

1 komentar untuk “Ing Madya, Mbangun Karsa: Posisi dan Peran Penulis dalam GKB”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.