kutamendala1
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Pemanfaatan SIPBM Untuk ATS Non Formal Di Desa Kutamendala

Data SIPBM yang sudah di entry oleh pendata di aplikasi sipbm berbasis android, ternyata sangat bermanfaat bagi kami dari Tim Pendidikan Untuk Semua dan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Desa Kutamendala Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, sangat memudahkan kami dalam melakukan rekonfirmasi ATS yang ada, sehingga tim kami tidak harus mencari satu persatu dari anak usia 7-18 tahun di desa.

Begitulah intisari yang disampaikan Ketua Tim Pendidikan Untuk Semua Desa Kutamendala Zaenal Faizin saat melakukan rekonfirmasi ATS dari data SIPBM. Data yang diterima inilah menjadi acuan awal untuk melakukan kunjungan bersama pengurus FMPP Desa, disana ada 3 kriteria yakni anak tidak sekolah, anak putus sekolah dan anak lulus tidak lanjut, kategori ketiga itu adalah Anak Gerakan Kembali Bersekolah (ATS GKB).

Koordinasi Antar TIM

Untuk memperkuat gerakan, maka Tim PU Desa dan Pengurus FMPP Desa di SK kan oleh Kepala Desa dengan besaran tugas sebagai berikut :

Untuk Tim PU Desa adalah memastikan kebijakan di level desa terkait pendidikan semua umur harus diperhatikan, termasuk aspek regulasi, aspek penganggaran desa, dan aspek kesinambungan desa. Tim PU Desa harus memastikan semua anak bersekolah terutama wajar dikdas, sedangkan pada anak PAUD memastikan agar semua anak PAUD terlayani pendidikannya, termasuk ketersediaan sarana dan prasarananya.

Sisi pada Remaja yang sudah lulus sekolah jenjang SMA/SMK/MA/Sederajat juga tim PU Desa ini memikirkan bagaimana mereka punya skill ketrampilan yang sesuai dengan minatnya, apakah mau minat untuk belajar di Balai Latihan Kerja (BLK), Kursus, ataupun lainnya, termasuk memastikan bagaimana mereka yang punya motivasi kuliah agar ada kerjasama antara desa dengan perguruan tinggi, bahkan memastikan ada bimbingan belajar di desa menjadi satu pointer penting bagi Tim PU ini dalam rangka meningkatkan kualitas belajar di level desa.

Berbeda dengan tugas FMPP Desa, yakni memastikan bahwa data ATS di desa itu ada, anak itu apakah dirumah atau diluar rumah, kemudian dilakukan rekonfirmasi ke rumahnya jika mereka berada di kampung halamannya, mestinya akan bertemu dengan keluarganya dan memastikan bahwa anaknya minat kembali bersekolah atau tidak, merayu atau memotivasi menjadi core keahliannya untuk mengembalikan ATS tersebut ke sekolah.

Saat anak ini sudah mengatakan minat, dan orangtuanya juga mendukung, selanjutnya memeriksakan semua administrasi yang dibutuhkan oleh satuan pendidikan yang ada, mereka mau memilih formal atau non formal disesuaikan dengan kondisi anak tersebut termasuk kapan anak tersebut tidak sekolah. Disini akan menentukan anak harus dikembalikan ke satuan pendidikan sesuai dengan tamatan terakhir sekolahnya. Jika dokumen dilihat lengkap selanjutnya mereka akan mendapatkan surat keterangan status anak GKB dari Desa.

Paska administrasi dari desa selesai, kemudian dikirim semua berkas yang ada ke sekolah yang dipilih, misalkan ke PKBM, maka tinggal berkas diserahkan ke pengelola PKBM, kemudian pihak pengelola PKBM ini akan memasukan status anak tersebut ke dalam data DAPODIK peserta belajar di PKBM, dari data dapodik ini maka status anak tersebut akan secara otomatis masuk dalam sistem di Dapodik Nasional Kemendikbud bidang PNFI atau Kesetaraan.

Selanjutnya FMPP belum selesai menjalankan tugasnya, dilanjutkan mereka untuk mendampinginya hingga anak ini benar-benar belajar dari sesuai kelas dan tidak ada istilah berhenti atau putus sekolah lagi, sampai dia benar-benar lulus hingga kejar paket C. Jika sudah selesai dengan pendidikan di PKBM selanjutnya pilihan anak tersebut mau kuliah atau bekerja, disinilah diserahkan kepada Tim PU Desa untuk diarahkan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Dampak Adanya Tim PU dan FMPP Desa untuk GKB

Tidak semua di Desa menerapkan model seperti yang dilakukan oleh Desa Kutamendala, kenapa di sini ada program seperti itu, karena memang desa ini masuk dalam intervensi program Pendidikan Untuk Semua, dimana ada beberapa strategi dan cara agar semua usia benar-benar mendapatkan hak pendidikannya, dan pihak desa atau warganya akan mendapatkan dampak dari kebijakan pendidikan ini.

Hingga saat ini, anak-anak yang sudah dikembalikan ada 10 peserta didik ke PKBM, sebuah upaya yang sangat bagus karena di era pandemi corona saja, anak-anak ini tetap mau belajar dan mau kembali bersekolah. Selamat buat Tim PU Desa Kutamendala dan Pengurus FMPP Desa Kutamendala. Adanya Pihak yang terkait menangani pendidikan di desa bisa menjadikan desa merasakan dampaknya.

Penulis : Bahrul Ulum | KBC-01 | tinggal di Brebes

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.