Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Pengembalian ATS, di Buktikan dengan Nomor Dapodik Siswa

Keberhasilan dari Gerakan Kembali Bersekolah salah satunya adalah rekonfirmasi dan pengembalian ATS ke sekolah yang dipilih, apakah mereka masuk di satuan pendidikan formal ataupun non formal. Pilihan ini akan diketahui oleh para pejuang pendidikan yakni Forum Masyarakat Peduli Pendidikan, merekalah garda terdepan dalam upaya pengembalian ATS ke Sekolah.

FMPP di desa menjadi pintu terbesar anak ini dikembalikan ke sekolah, disamping itu ada pintu lain, seperti diterimanya anak berada di pendidikan yang dipilih. FMPP desa bisa memberikan rekomendasi kepada ATS dan wali ATS tersebut, ada beberapa opsi yang perlu disampaikan, misalkan, anak Ibu atau Anak Bapak ini kalau dilihat dari data yang dimiliki maka bisa masuk di lembaga formal yakni di sekolah negeri/swasta. Pilihan sekolah negeri bila mendaftarnya online, namun kalau pilihan sekolah swasta bisa diantarkan ke sekolah dimana anak ini mau, tentunya dengan syarat seperti memiliki akte kelahiran, masuk data KK orangtua, dokumen sekolah sebelumnya seperti ijasah ataupun rapot barangkali ada, kemudian nanti dibantu untuk mengirimkan berkas tersebut kepada sekolah yang dimaksud.

Di Lembaga Formal misalnya, antara memasukan peserta didik dari kategori ATS tentunya tidak sama dengan memasukan peserta didik di lembaga non formal, kalau lembaga formal maka anak ini harus lebih disiplin waktu pengembalian, motivasi orangtuanya jauh lebih disiplin termasuk anak ini tidak berhenti lebih dari dua tahun. Kalau hanya berhenti satu tahun saja, maka anak ini masih mempunyai kesempatan dimasukan ke lembaga formal karena tidak jauh jedanya dengan teman sebayanya. Jadwal anak yang masuk di sekolah formal juga harus tepat waktu, kalau anaknya ini terlambat saja memasukan datanya ke sekolah negeri misalnya, maka untuk mendapatkan kuota rombel saja akan susah, apalagi jika yang diinginkan adalah sekolah pavorite di wilayahnya.

Bagi relawan pendidikan seperti FMPP ini harus juga menyampaikan latar belakang ATS kepada lembaga sekolah yang dipilih, sehingga pihak sekolah nantinya juga akan memonitor dan memberikan umpan balik jika ada masalah dengan anak tersebut, memudahkan koordinasi jauh lebih bagus daripada hanya memasukan ATS kemudian tidak ada komunikasi, maka akan berdampak tidak baik hubungan antara FMPP dengan pihak sekolah.

Tidak semua Kab/Kota itu punya kader-kader terbaik yang militan untuk mendampingi ATS, karena kader militan ini harus berjiwa emas, tidak mudah menyerah dan tidak dibayar dengan honor rupiah tiap bulanan, mereka benar-benar mengabdi untuk masa depan anak agar di daerahnya benar-benar berkualitas.

Apa yang dilakukan oleh Ketua FMPP Kecamatan Jatibarang Surono misalnya, selain pernah bekerja sebagai ASN guru atau pendidik pada masa mudanya, ternyata di usia pensiun masih memberikan tenaga dan pikiran sama finansialnya untuk masa depan anak-anak di daerahnya melalui upaya pengembalian ATS kepada lembaga formal dan non formal (PKBM). Upaya yang dilakukan tanpa ada prosedur seperti halnya bekerja tiap hari waktu, tapi ketika ada anak tidak sekolah ingin sekolah maka relawan seperti pak surono inilah yang akan mengawal dan memastikan dokumen anak tersebut sampai ke lembaga pendidikan yang dimaksud.

Oleh lembaga pendidikan inilah akan diterima, dan nantinya di masukan dalam dokumen Dapodik. Jika Formal masuk di Dapodik Formal, jika itu non formal (PKBM) juga akan dimasukan dalam dapodik PKBM (program paket kesetaraan), masing-masing untuk closhing Dapodiknya tidak sama. Jika formal itu berkisara antara agustus setiap tahunnya, dan non formal itu kisaran september tiap tahunnya.  Oleh karena itu sangat penting bagi siapapun yang ingin mengembalikan ATS ke sekolah juga harus memahami regulasi yang ada terutama closhing dapodik.

Bukan hanya surono saja, teman-teman FMPP di Kutamendala juga melakukan apa yang dilakukan oleh Surono ini, sehingga mereka bergerak bersama-sama untuk meningkatkan generasi Brebes dimasa yang akan datang, semoga ikhitar GKB ini bisa menjadi awal jendela kemajuan pendidikan di Kabupaten Brebes dalam rangka tidak meninggalkan generasi yang lemah.

Bahrul Ulum | KBC-01|Tinggal di Brebes  Kota

KBC-01

KBC-01

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *