anak berbaris sebelum masuk kelas. Sumber: nasional.tempo.co
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Pentingnya Memahami dan Mendampingi Anak Putus Sekolah

Problem Anak Tidak Sekolah (ATS) di kabupaten Brebes, sepertinya akan terus ada. Karena ternyata ada banyak faktor yang mempengaruhi seorang anak untuk tidak atau memilih putus sekolah. Inilah yang harus kita pahami bersama. Tidak semua anak yang putus sekolah itu dikarenakan kenakalan atau kemalasannya. Tapi ada pula faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Pertama, faktor ekonomi. Tak bisa dipungkiri, meskipun telah didengungkan pendidikan gratis di semua jenjang, namun realitanya masih banyak iuran atau biaya lainnya yang harus ditanggung oleh seorang siswa, seperti iuran komite, sumbangan untuk ini dan itu serta yang pokok adalah uang saku bagi anak itu sendiri yang terkadang jauh lebih besar. Bayangkan jika uang saku serta transport anak sekolah seharinya mencapai 10 ribu rupiah, berarti setiap hari orang tua murid harus mengeluarkan biaya sebesar 250 ribu rupiah per bulannya. Belum lagi ketika anak kita mengikuti ekstra kurikuler, ikut les privat, biaya pengerjaan tugas dan lainnya.

Bagi ekonomi lemah, tentu biaya sekolah anak menjadi kendala yang berarti. Maka tak jarang kita temui, anak yang sebenarnya minat belajarnya tinggi tetapi karena kurang didukung dengan ekonomi keluarga, harus putus di tengah jalan. Bahkan sebagian dari mereka akhirnya harus ikut banting tulang membantu ekonomi keluarganya. Ironi, di usianya yang masih anak, mereka putus sekolah dan harus menjadi pekerja anak.

Kedua, Faktor keluarga yang harmonis. Ketidak-harmonisan keluarga biasanya menyisakan masalah kepada anak. Tak terkecuali berpengaruh pada minat belajar anak. Sebagai contoh orang tua yang bertengkar bahkan sampai berujung perceraian, biasanya berimbas besar pada anak-anaknya. Perhatiannya terpecah. Anak pun merasa tak diperhatikan, akhirnya berimbas pada menurunnya minat belajarnya. Disinilah terlihat betapa pentingnya kerjasama dan peran kedua orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Ketiga, lingkungan sekolah. Ada sebagian anak memutuskan putus sekolah dikarenakan karena merasa kurang nyaman dengan lingkungan di sekolahnya. Bisa dengan guru maupun dengan teman-teman sekolahnya. Perlakuan tidak baik, sepert bully oleh oknum siswa sering menyebabkan siswa lainnya tidak betah, merasa tertekan atau minder, hingga pada akhirnya memutuskan untuk putus sekolah.

Keempat, faktor lingkungan. Kita sadari bersama bahwa keberadaan anak untuk belajar, menuntut ilmu di sekolah hanya beberapa jam dalam sehari. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan di luar sekolah. Maka lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap minat belajar seorang anak. Apalagi jika seorang anak sudah terlanjur salah pergaulan, terpapar obat-obatan atau kecanduan game. Bisa bubar, pendidikannya.

Pendampingan GKB

Kita semua mengapresiasi Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) khususnya di kabupaten Brebes yang telah mengembalikan anak ke sekolah. Tentu bukanlah hal yang mudah. Karena pekerjaan mulia ini tak sekedar mengembalikan anak ke sekolah begitu saja. Tetapi bagaimana anak yang sudah lama tak bersekolah, dengan segala problemnya, akan merasa nyaman di sekolahnya yang baru.  Beberapa masalah pun muncul pasca mengembalikan anak ke sekolah sesuai jenjangnya.

Ada beberapa anak yang merasa tidak betah, dan keluar kembali di tengah perjalanan. Beberapa guru juga merasa kesulitan untuk menuliskan nomor induk siswanya. Sedang orang tua di rumah tak bisa apa-apa. Ada juga anak yang merasa ragu, tidak betah karena posisinya yang sudah nyaman, terbiasa di luar sekolah menghasilkan uang.

Pada kenyataan inilah sangat diperlukan pendampingan khusus kepada mereka. Dengan adanya pendampingan khusus, setidaknya mampu menggalakan dan membangun komunikasi dengan mereka, maupun dengan para gurunya. Pendamping akan menjadi fasilitator ke dua pihak dalam melancarkan program studi lanjutannya.

Penulis : Imam Chumedi, S.Sos.I, pendamping PKH Kecamatan Wanasari | Kompasianer Brebes Tinggal di Wangandalem

1 komentar untuk “Pentingnya Memahami dan Mendampingi Anak Putus Sekolah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.