IMG20190909150133
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Peran Desa dan Masyarakat Untuk ATS Tentang GKB

Pada jaman sebelum Kemerdekaan RI, yang namanya pendidikan hanya tersentuh oleh mereka, anak para bangsawan. Sedangkan anak-anak dari golongan rakyat biasa, bisa lulus Sekolah Dasar ( dulu SR=Sekolah Rakyat) saja sudah luar biasa hebat. Memang pada jaman tersebut perbedaan ras, deskriminasi masih sangat menonjol.
Setelah Indonesia merdeka, kemudian secara bertahap penataan di segala bidang  mulai di lakukan. Di bidang pendidikan, anak-anak mulai belajar, mengenyam pendidikan, walaupun keadaannya saat itu masih jauh dari kerapian dan ketertiban. Masih banyak anak sekolah yang belum memakai sepatu maupun seragam. Sistem pembelajaran pun tentunya masih sangat sederhana, terkesan apa adanya.

Di era pembangunan, era reformasi, kemudian di berlakukan aturan yang sebelumnya belajar hanya 6 tahun di Sekolah Dasar, kemudian di ubah menjadi wajib belajar 9 tahun hingga sekarang ini. Adanya peraturan tersebut memang secara realita, anak lulusan Sekolah Dasar masih belum matang dari segi mental maupun fisik jika harus menghadapi kemajuan jaman yang semakin canggih ini.

Walaupun demikian, di jaman yang serba maju ini, ternyata masih banyak anak-anak yang putus sekolah (ATS). Dari data yang di dapat di lapangan, anak-anak yang tidak sekolah ini bukan hanya karena ketidak mampuan dari orangtua, namun ada yang tidak sekolah karena atas kemauan anak itu sendiri yang memang tidak mau sekolah. Sungguh ini suatu hal yang sangat memprihatinkan, dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak, terutama bimbingan dari orangtua. Peran orangtua memang sangat penting dalam membimbing anak-anaknya untuk selalu mengutamakan kepentingan pendidikan di atas kepentingan lainnya.

Atas dasar itulah, kemudian pemerintah berupaya untuk mengembalikan anak-anak yang tidak sekolah ataupun yang putus sekolah agar mereka mau bersekolah lagi dengan gerakannya yang di namai Gerakan Kembali Bersekolah (GKB). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Drs. H. Moh. Robikhun, MAg bahwa keterlibatan semua komponen untuk mensukseskan GKB sangatlah penting. Termasuk dunia usaha dan edukasi dari para tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk membantu meyakinkan warganya, bila ada anak yang tidak sekolah agar segera melaporkan ke pemdes setempat. Selain itu juga perlu adanya motivasi kepada orangtua dan juga anaknya agar mau sekolah.

“Dengan adanya peran serta masyarakat, dan orangtua dalam ikut mensukseskan gerakan kembali bersekolah, insyaAllah 5 tahun ke depan akan terlihat peningkatan kualitas dari anak Brebes yang tidak meninggalkan generasi yang lemah”, jelas Drs. Moh.Robikhun, MAg penuh antusias. Selasa, (02/05/2020).

Demikian juga sama halnya yang di katakan H. Bahrul Ulum, SE M.si, bahwa tanggung jawab utama pada anak adalah orangtua. Manakala orangtua belum msksimal dalam pembiayaan sekolah bagi anaknya, mska negara harus hadir untuk memenuhinya.

“Kebijakan ATS melalui GKB, yang menjadi garda terdepan adalah Pemdes, karena pemdes merupakan sumber pendataan ATS yang akurat. Dukungan pembiayaan dari Dana Desa dan tempat konsultasi yang mudah di akses oleh semua warga, tentunya dengan melibatkan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) desa untuk memastikan dan mendampingi anak tersebut kembali bersekolah”, jelas H. Bahrul Ulum, SE. M.Si.

Nurkhasanah ( Kompasianer Brebes Tinggal di Kedungoleng – Paguyangan)

KBC-027/Kombes, EMK 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.