PKBM
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Peran PKBM Untuk Tangani ATS Di Kecamatan Paguyangan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), merupakan sebuah lembaga pendidikan yang di kembangkan dan di kellola oleh masyarakat, serta di selenggarakan di luar sistem pendidikan formal, baik di perkotaan maupun di pedesaan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan belajar kepada seluruh lapisan masyarakat, agar mereka mampu membangun dirinya secara mandiri sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Salah satu peran PKBM, adalah menangani kasus Anak Tidak Sekolah (ATS). Anak-anak yang tidak sekolah, karena sudah bertambah umur, kemudian merasa minder atau malu jika harus bersekolah kembali di sekolah formal, maka jalan keluarnya adalah di salurkannya anak tersebut di lembaga non formal, sebagai salah satu upaya Gerakan Kembali Bersekolah (GKB), salah satunya melalui lembaga PKBM. Ada tiga kriteria Anak Tidak Sekolah (ATS), sebagaimana di sampaikan Ir. Djoko Gunawan, MT selaku Sekda Brebes.

“GKB adalah upaya Pemerintah Kabupaten untuk mengatasi ATS agar kembali bersekolah, dengan kriteria belum sekolah, putus sekolah, dan lulus tidak lanjut. Pastikan semua anak di Brebes bisa sekolah, karena mereka punya hak untuk memperoleh pendidikan. Dukungan semua komponen sangat penting dalam mensukseskan GKB”, ujarnya.

Di Kecamatan Paguyangan sendiri, berdasarkan data referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada delapan daftar satuan pendidikan (sekolah) pendifikan masyarakat (Dikmas) per Kecamatan Paguyangan, adalah :
1.LKP Bangun Bangsa, Desa Pakujati
2.LKP Bina Karya, Desa Pagojengan
3.LKP Logval.com, Desa Ragatunjung
4.LPK Sigma Course Center, Desa Patuguran-Winduaji
5.PKBM Al Himmah, Desa Wanatirta
6.PKBM Budi Utomo, Desa Paguyangan
7.PKBM Mekar Seribu, Desa Pereng-Winduaji
8.PKBM Pelita, Desa Pandansari.

Dari FMPP Kedungoleng yang beranggotakan beberapa orang dari kelompok perempuan Selapanan saat itu, dengan berbagai kendala dan hambatan berhasil mendata mereka, anak-anak maupun orang dewasa yang mau meneruskan pendidikannya di jenjang setaraf SMA.

Kemudian, mereka tidak mau di masukkan ke dalam sekolah formal, maka mereka masuk di kejar paket C, di PKBM Al Himmah, Desa Wanatirta. Waktu itu ada sepuluh orang, namun yang dua orang kemudian tidak meneruskan pendidikan, sehingga ada delapan yang mengikuti pendidikan hingga mereka saat ini ada yang sudah menempuh ujian(lulus) dan ada yang masih menyelesaikan pendidikan di lembaga tersebut. Dari ke delapan orang tersebut adalah Sunarti, Trismiati, Siti Aisyah, Suyatno, Suharti, Sayuti, A’an Rinata, dan Sugiarti.

Mereka patut berbangga hati, karena keikutsertaannya dalam pendidikan kejar paket C, akhirnya mempunyai harapan untuk mendapatkan ijazah SMA. Karena dengan ijazah tersebut, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja di tempat yang lebih baik, dan bagi yang tidak bekerja pun, mereka bisa memiliki ketrampilan, baik tata busana,tata boga, maupun ketrampilan lain yang di dapat di PKBM, sebagai bekal untuk mendapatkan penghasilan.

Sugiarti (30), adalah peserta kejar paket C, yang tanpa di data ingin mengikuti kegiatan di PKBM. Alasannya, karena saat ini Sugiarti bekerja sebagai kepala kebun di salah satu sekolah (SD) di Kedungoleng dengan harapan ke depannya ada peningkatan yang lebih baik dengan bidang pekerjaan yang saat ini di gelutinya. Demikian halnya dengan A’an Rinata, ia memilih ikut belajar di PKBM, agar dengan ijasah SMA yang di perolehnya mampu membawa nya menjadi seorang karyawan dengan bidang pekerjaan yang lebih baik, karena sebelum mengikuti kegiatan PKBM, A’an mengaku sempat bekerja di perantauan dengan upah yang tidak mencukupi sekedar untuk hidup, karena memang belum memiliki ketrampilan apa-apa.

Sementara untuk peserta PKBM yang lain yang terdiri dari anggota kelompok perempuan mengakui, keikutsertaannya dalam kegiatan PKBM adalah untuk menambah pengetahuan di bidang pendidikan maupun ketrampilan, sehingga walaupun sudah ibu-ibu maupun bapak-bapak, tidak terlalu minder dalam bergaul, selain itu juga ketrampilan yang mereka dapatkan di PKBM akan menjadi bekal bagi mereka untuk dapat berproduksi, sehingga tidak terlalu bergantung pada suami atau orang lain.

Peran PKBM sangat penting, di samping untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan, PKBM juga mengurangi buta aksara, dan menanggulangi kemiskinan, akibat dari rendahnya masyarakat yang memandang tak perlu akan pendidikan. Nyatanya, mereka yang mempunyai pendidikan yang cukup, dapat menyelesaikan masalah hidupnya dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki.

Nur Khasanah |KBC-27 Tinggal di Paguyangan | Kombes-Jateng

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.