Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Rekonfirmasi ATS Sebagai Upaya Memastikan Anak Bersekolah

Rekonfirmasi artinya adalah Re itu menanyakan, Konfirmasi artinya penegasan; pengesahan; pembenaran. Jadi ketika anda melakukan aktivitas rekonfirmasi maka anda berarti sudah melakukan upaya secara sadar dengan mendatangi atau menghubungi seseorang untuk penegasan data tersebut, misalnya ada data ATS yang bersumber dari Desa atau dari sumber data lain (contoh SIPBM atau sistem informasi pembangunan berbasis masyarakat) dengan menjelaskan bahwa di desa tersebut ada by name by addres ( ada nama dan alamat pasti), maka selaku relawan pendidikan untuk mendatangi anak tersebut, bisa bertemu dengan orangtuanya dan anaknya.

Rekonfirmasi data adalah menegaskan kembali apakah betul anak tersebut berminat kembali ke sekolah, bagaimana dengan respon kedua orangtuanya, apakah mereka juga mendukung bahwa anaknya akan disekolahkan, sekaligus memastikan juga bagaimana dengan data yang ada di rumahnya, apakah masih tersimpan seperti rapor sekolah, ijasah terakhir sekolah jika kategori ATS tersebut adalah Lulus Tidak Lanjut, jika putus sekolah berarti ditanya kembali putus pada kelas berapa, dan punya dokumen apa yang dimiliki, jika ATSnya kategori tidak sekolah tapi usia sekolah maka ditanyakan juga apakah mereka itu masuk kategori anak berkebutuhan khusus atau tidak.

Melakukan rekonfirmasi ATS itu tidak hanya sekali jika anaknya tidak mau, asalkan anaknya masih berada di rumah atau bersama dengan orangtua maka relawan pendidikan (Forum Masyarakat Peduli Pendidikan) bisa melakukan kunjungan lagi, karena potensi anak yang berada di desa dan masih bersama dengan orangtuanya itu jauh lebih mudah dikembalikan ke sekolah, dibandingkan anak yang sudah berada di luar rumah atau bekerja di luar desanya atau luar Kab/Provinsi.

Melakukan motivasi lewat rekonfirmasi harus telaten dan sabar, karena pertama biasanya kecenderungan anak tidak mau menjawab atas tawaran dari FMPP yang mendatanginya, namun seiring sudah disampaikan awal dari relawan pendidikan ini kepada orangtuanya maka orangtua inilah yang bertugas untuk merayu kembali dan ketika anaknya mau, maka segeralah ditindaklanjuti agar anak ini pemberkasannya diproses dengan baik.

Terkadang juga terkendala ketika anak sudah direkonfirmasi kemudian ijasah sekolahnya tidak diberikan oleh pihak sekolah karena masih ada tanggungan keuangan saat masih di sekolah, sehingga ijasah dijadikan alasan agar anak ini dan orangtuanya menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, ini juga menjadi tantangan bagi relawan FMPP di desa bahwa dalam pengembalian ATS bukan hanya persoalan kepada anaknya saja, juga persoalan pada orangtuanya dan pihak sekolah.

Ada lagi persoalan lain, yakni sekolahnya memberlakukan sama antara peserta didik ATS dengan peserta didik yang daftar normal, sehingga mereka akan diperlakukan beberapa biaya yang sama, seperti sumbangan komite sekolah, sumbangan untuk pengembangan sistim pendidikan di sekolah dan ragam sumbangan yang lain, oleh karena itu sebaiknya relawan FMPP juga harus melakukan upaya pendekatan awal dengan pihak sekolah, baik itu sekolah negeri maupun sekolah swasta. Memang belum ada kebijakan secara totalitas terkait kuota bagi ATS di sekolah negeri dan swasta, sehingga para relawan juga kadang menemui kesulitan di sana sini.

Selain itu, melakukan rekonfirmasi juga menjadi penegasan bahwa anak ini akan memilih sekolah yang diminta, disinilah relawan FMPP Desa pun bisa memberikan tawaran kepadanya, ini konsekuensi jika memilih sekolah di formal dan non formal, termasuk pilihan di pondok pesantren. Semuanya harus disampaikan agar anak ini bisa memilih sesuai dengan keinginannya, dan diupayakan dengan melihat rombel atau rombongan belajar yang ada di sekolah tersebut, jika sudah rombelnya penuh maka tidak bisa memaksakan kehendak untuk di masukan, karena sekolah juga harus mematuhi aturan rombel dan memasukan dapodik di system pendidikan nasional.

Percayalah jika ada kemauan pasti ada solusi, begitu pula dengan para pegiat pendidikan, bahwa niatkan ketulusan dalam berjuang, perjuangan ini sama dengan anda berjuang melawan peperangan, karena yang makna perang dalam hal ini adalah melawan kebodohan di bumi ini, menghantarkan anak ke pendidikan selanjutnya berarti telah melakukan perjuangan jihad kebodohan, anak menjadi berkualitas, beban ganda negara semakin menurun, karena sudah banyak masyarakat yang tertinggal kebodohan, menjadi generasi yang berakhlaqul karimah dan masa depan ceria.

Penulis : Bahrul Ulum | KBC-01|Tinggal di Brebes Kota

KBC-01

KBC-01

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *