FB_IMG_15883119953642420
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Sebuah Cerita Inspirasi ATS Desa Wanatirta Brebes

Sekolah merupakan impian semua anak di Indonesia apalagi bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi itu merupakan satu hal yang di impikan oleh anak yang memiliki keluarga dengan ekonomi menengah kebawah. Bisa bersekolah saja sangat beruntung sekali tidak perlu pakaian yang bagus dan mahal, alat- alat sekolah yang lengkap seadanya yang penting sudah cukup dan bisa menunjang sekolah saja itu sudah membahagiakan Apalagi sekarang wajib belajar 12 tahun.

Di tahun 2016 Kabupaten Brebes melakukan pendataan Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat ( SIPBM) untuk mengetahui tingkat pendidikan, kesehatan , dan adminduk. Saat itu Kecamatan Paguyangan adalah Pilot Project untuk SIPBM yang melibatkan 12 Desa.

Setiap desa mengutus perwakilan sebagai Petugah Pencacah Lapangan ( PCL) untuk mendata masyarakat perdesanya agar di ketahui tingkat pendidikan, kesehatan dan adminduk yang ada di Desa masing masing.

Untuk tingkat Pendidikan untuk mengetahu Berapa anak usia sekolah 7-21 yang masih bersekolah, usia 7-21 yang tidak bersekolah, untuk Kesehatan salah satunya yaitu jambanisasi, dan Adminduk yaitu Akte Kelahiran.

Setelah Kegiatan SIPBM selesai ada tindak lanjut dari pendataan itu yang terkait pendidikan karena dari hasil pendataan banyak sekali anak usia 7-21 tidak bersekolah yaitu Gerakan Kembali Bersekolah ( GKB) dimana tujuannya untuk mengentaskan Anak Tidak Sekolah ( ATS) untuk Kembali Bersekolah dengan biaya dari  Kabupaten.

Lidia salah satu relawan yang tergerak hatinya ingin membantu ATS di Desa Wanatirta agar dapat melanjutkan sekolah tanpa berfikir biaya, dengan di temani Ikmah  Melani mencari anak- anak yang ingin bersekolah kembali. Rumah kerumah kami datangi dengan menjelaskan prosedur untuk ikut GKB yaitu
1. Anak siap untuk dikembslikan sekolah dan ada minat belajar anak yang tinggi
2. GKB adalah Gerakan dimana orang tua masih harus membantu terkait biaya  misal uang saku, dan keperkuan pribadi anak, karena dari Kabupaten hanya membiayai  kebutuhan anak disekolah
Pagu biaya dari Kabupaten
a. Untuk SD 800.000 per tahun
b. Untuk SMP 1.000.000 per tahun
c. Untuk SMA 1.400.000 per tahun
3. Mau menandatangi surat pernyataan terkait GKB.

Saat itu dari 100 anak dari data hasil SIPBM yang di datangi hanya sembilan anak yang bersedia kembali Bersekolah 7 untuk tingkat SMA/ SMK dan 2 untuk tingkat SMP. Salah satunya kami kerumah bu Kawiyem saat itu kami bertemu keluarganya dan membicarakan maksud kedatangan kami kerumah itu.

Kami menjelaskan atas kehadiran saat itu sebagai relawan GKB dengan tugas mencari anak yang ingin bersekolah kembali dengan biaya sekolah dari Kabupaten. Saat itu ada sinar kebahagiaan yang terlihat di wajah ibu Kawiyem. Kemudian  Bu Kawiyem (50) menjelaskan kalau mempunyai anak usia SMP putus sekolah karena kelangkaan biaya, saat itu putus di kelas satu semester dua, karena tidak mampu membayar lagi akhirnya kami selaku orang tua memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya yang Bernama Ismatun Amanah.

Bukan hanya Ismatun yang putus sekolah kelima kakaknya saja putus sekolah dengan alasan yang mungkin menurut orang sepele ada yang karena tidak bisa membeli sepatu, ada yang tidak bisa membeli buku, ada yang karena tidak ada uang saku dan ismatun sendiri karena tidak mampu membayar SPP.

Saat itu anak kami nangis karena ingin melanjutkan sekolah, tetapi apalah daya kami hanya buruh tani serabutan berpenghasilan Rp 25.000/ hari itupun kalau ada yang ngasih pekerjaan kalau tidak ya kami mencari di luar desa ini.

Kegiatan Ismatun setelah putus sekolah membantu kami diladang kadang mencari kayu untuk kayu bakar dan saat ini dia bekerja di jakarta sebagai pembantu karena ingin membantu ekonomi keluarga dan sisanya di simpan untuk melanjutkan sekolah.  Tetapi saya mendengar penjelasan tadi saya berniat untuk ikut GKB agar anak saya bisa bersekolah kembali, karena saya kasihan anak sekecil itu mencari nafkah untuk keluarga.

Begitu yang dialami Ismatun Amanah(15) anak dari seorang buruh tani bernama ibu kawiyem Dukuh Karanganyar Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes  Jawa Tengah yang awalnya putus sekolah di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena tidak ada biaya untuk membayar sehingga mau tidak mau harus berhenti sekolah. Harapan untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi terhapus sudah, saat itu Ismatun nekat pergi ke Ibukota Jakarta untuk bekerja membantu ekonomi keluarga.

Kemudian Ismatun bisa kembali bersekolah melalui program Gerakan Kembali Sekolah (GKB) di Kabupaten Brebes. Dimana program ini bertujuan untuk mengembalikan anak yang putus sekolah untuk bersekolah kembali. Betapa bahagia hati ismatun dan keluarga setelah mendapat bantuan seperti ini, Ismatun yang hanya anak seorang buruh yang berpenghasilan Rp. 25.000/ hari bisa bersekolah kembali ketingkat yang lebih tinggi dan selangkah lebih maju bisa menggapai cita-cita jadi seorang guru.

Penulis : Lidia Alfi | Kompasianer Brebes Tinggal di Kecamatan Paguyangan | Jurnalis Warga | KBC-07 Kombes

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.