Ilustrasi
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter
Share on whatsapp

Terkadang Harus Marah

Marah, siapa sih yang tak pernah marah. Tapi maaf, marah jangan diartikan semua hal negatif, marah kadang dapat menjadi sesuatu yang positif, bahkan meningkat menjadi sebuah keharusan.

Hal ini berdasarkan asumsi bahwa manusia membutuhkan kekuatan khusus untuk bisa melakukan diplomasi dan negosiasi dengan hatinya, sehingga ia bisa memecahkan problem-problem yang dihadapi.

Marah disatu sisi masih sangat dibutuhkan manusia dalam menjaga eksistensi diri manusia itu sendiri dan sebagai persiapan baginya dalam mempertahankan perkembangan penyesuaian dirinya, dari berbagai ancaman, terutama faktor ekternal yang akan dihadapi manusia.

Adanya marahpun tidak menjadi kesia-sia berada dalam diri manusia, semua yang diciptakan Tuhan ada manfaatnya, tinggal manusia saja yang mampu memanfaatkannya atau tidak.

Marah dapat juga diartikan suatu emosi yang disertai dengan perubahan fisiologis seperti wajah yang memerah, menegangnya otot-otot dan gemetarnya gerakan. Namun kalau marahnya tidak terkontrol, kadang yang terjadi marah disertai dengan perilaku mencela, memukul membunuh dan balas dendam. Ini mungkin dapat dikatagorikan marah abnormal.

Kalau marah yang baik, biasanya kemarahannya sesuai dengan koridor yang ditentukan oleh akal dan juga ajaran agama. Marah terjadi sebagai sesuatu perlindungan yang dibutuhkan saat itu dan akan langsung meredam disaat semuanya kembali normal.

Adapun kalau sudah terlanjur marah, maka ada hal-hal yang harus perhatikan dan dilakukan, yaitu berusaha menghilangkan segala penyebabnya dan mengendalikan hasil akhirnya. Bukan dengan menghilangkan emosi kemarahan tersebut secara langsung dari dalam diri orang yang sedang marah. Karena bisa juga, yang terjadi sesungguhnya kemarahan itu hanyalah kulit dari inti permasalahan yang ada dan perlu diingat hadirnya marah kadang datang tanpa dikehendaki.

Ada resep yang digelontorkan oleh Imam Al -Gozali dalam meredakan seseorang bila dalan komndisi marah :

Pertama, ketika marah sebaikanya yang dipikirkan adalah pahala memaafkan dan menahan amarah, pertimbangan keuntungan yang diberikan Tuhan dan manfaat diri dan orang lain dari keberhasilan mengekang marah.

Kedua, ketika marah hendaknya mengingat akan kemarahan Allah dan hukum-Nya bila melakukan kemarahan tanpa alasan yang jelas, apalagi marah yang bukan menjadi haknya. Marah hanya akan menimbulkan rasa iri dan dengki, selanjutnya dari hati dan mulut akan keluar kata-kata kotor dan mungkin dari anggota tubuhnya akan keluar pukulan atau kekerasan fisik.

Ketiga, ketika mau marah hendaknya berfikir berulang kali tentang dampak kemarahan dan mata rantai, yang hanya justru membuatnya menjadi lebih buruk dari sebelumnya, komparasikan antara keuntungan dan kerugian bila menahan amarah dengan mengungkapkan kemarahannya.

Keempat, bayangkan sosok dirinya di saat sedang marah dan betapa kondisinya saat itu sangat mirip dengan binatang dan jauh dari simbol para nabi, ulama dan orang yang bijak.

Kelima, coba analisis dengan baik, segala motivasi yang mengarahkan pada keinginan untuk bisa meredam kemarahan ataupun keinginan untuk bisa membalas dendam. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dan nilai-nilai yang baik.

Keenam, meyakini bahwa yang terjadi merupakan ketetapan Allah dan takdir dari-Nya, sehingga akan muncul dalam dirinya kesabaran dalam menerima kenyataan dan kemenangan untuk menahan diri dengan baik.

Enam pemikiran yang dilakukan oleh imam al-Ghazali dalam meredam kemarahan, menjadi keuntungan diri sendiri bagi yang mampu menahan marah. Kerena dengan menahan marah akan terhindar penyakit psikologis dan fisik.

Kalaupun harus boleh marah, bila kemarahan tersebut dapat mengajarkan pada sesuatu yang berharga pada musuh, dan berkesempatan untuk menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran. Wallahu’alam bishowab.
Lukmanbrebes KBC-29

 

Editor : KBC-10

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.